Setengah Hari Bersama Tami

Ini bahkan bukan gedung perkantoran resmi. Kantornya terletak di jalanan yang hanya berjarak seratus meter dari rumahku, dan telah kulewati jutaan kali. Tapi aku tak pernah menyadari bahwa di deretan tukang kuetiauw, salon rumahan, dan ayam penyet ini berdiri sebuah kantor megah.

Begitu memasuki kantor ini, aku terpukau melihat betapa mewah furniturenya. Bahkan rasanya lebih bagus daripada kantorku dulu saat di Astra. Sang resepsionis mengantarku ke ruangan di sudut. Dan di balik meja besar, di sebuah kursi yang hanya bisa dideskripsikan sebagai kursi direktur, duduklah sahabatku.

Sahabat sedari SMP, yang dulu setiap Selasa dan Jumat memainkan biolanya dengan lincah. Yang jago mengedit foto dan website. Seumuranku, baru 24 tahun. Dan kini, saat banyak temanku yang masih pengangguran, di saat aku memejamkan mata menikmati tidur siang dan mencari teman untuk pointless hang out, sahabatku ini sudah mengurus 9 perusahaan.

Dengan hangat ia mempersilakanku duduk. Sedikit canggung awalnya, aku menaruh notes dan penaku di atas meja. Kunjungan kali ini terasa aneh, karena bukan untuk makan malam biasa. Aku ingin belajar darinya.

Meja kerjanya lebih luas daripada meja kerja yang dipakai 4 orang di kantorku. Tapi meja luas ini malah sepertinya kurang untuk menampung tumpahan pikiran dan idenya. Di meja tersebar beberapa tumpukan kertas yang ditata rapi.

“Sebelah kiri gue tumpuk per project. Ini project hutan, ini project tambang,” jelasnya saat melihatku mengangkat alis. “It helps constellating my mind. Gue bisa bawa pulang sebundel untuk dibaca-baca sebelum tidur, dari situ gue bisa ngelihat progress project sudah sampai mana, masalahnya apa, dll.”

Yang sebelah kanan?

New business opportunities.” Ia mengambil sebundel kertas yang ternyata adalah artikel tentang pertemuan pemerintah Indonesia dan pemerintah China, yang juga dihadiri oleh sebuah perusahaan ternama. “Dari artikel ini, kalau jeli kita bisa melihat business opportunity.”

Aku membaca sekilas artikel itu, dan yang kulihat hanya ulasan biasa. Ouch. Jelas “kejelian” itu belum kumiliki. Tapi lalu Tami menjelaskan tentang poin-poin tersirat yang bisa mengarah ke kesempatan bisnis. Mata dan otakku pelan-pelan mulai mencerna dan mengenali business opportunity yang dimaksud.

“Proposal-proposal kayak begini sering datang ke gue,” Tami menunjukkan beberapa bundel proposal dengan berbagai topik. Sementara di meja kerjaku dulu banyak proposal sponsorship dari mahasiswa, ini proposal yang sama sekali berbeda. Proposal yang menawarkan kesempatan bisnis berharga. Yang mungkin bagi orang yang baru pertama kali menjalankan bisnis, akan menjadi harta yang luar biasa. “Ketika lo ngebangun bisnis dengan reputasi yang baik, kesempatan seperti ini akan selalu dateng ke elo,” katanya singkat. Nantinya baru ia menuturkan lebih panjang tentang makna kalimatnya. Ia lalu menyambung, “I got all these from my contacts. Kalo contacts gue ga bisa provide gue dengan ini, gue gak mau wasting my time and energy with them.”

Wow. Sounds really harsh. “Termasuk gue…?” tanyaku tentatif.

Of course not. You’re my old friend,” katanya dengan senyum merekah, dan saat itu aku bisa melihat Tamiun yang dulu dengan rela mengeditkan foto gebetan temanku, dengan ekspresi lucu terpampang di wajahnya.

“Gue juga provide contacts gue dengan hal semacam ini. Contohnya, bisnis ini gak mungkin gue jalanin,” ujarnya sambil menunjuk sebuah proposal, “tapi Dika mungkin mau. Jadi nanti akan gue tawarkan ke dia.”

Setelah menjelaskan beberapa hal, ia kembali sibuk dengan laptopnya. Setiap hari ia menerima dan mengirim sekitar 500 email. Aku tak dapat membayangkan betapa penuh otaknya. Sambil mengamatinya dan mencatat beberapa hal, tak urung aku jadi merenungkan. Bagaimana seseorang di usia begitu muda memegang tanggung jawab sebesar ini? Dan saat aku berkaca padanya, tak ada lagi ruang untuk kesombongan dalam diriku. Semua prestasiku terlihat sepele dan tak berarti saat disandingkan dengannya.

Aku melayangkan pandangan ke sekeliling ruangan, dan melihat berbagai aksesoris antik China. Guci, patung pejuang, patung empek gendut. Aku pun teringat masa-masa kongkow di kamar Tami sepulang sekolah, saat Tami dengan antusias menceritakan kesukaannya membaca Sampokong dan kisah-kisah China kolosal yang membuatku menahan tawa. Aku sendiri cenderung anti dengan hal yang berbau China. Aku menatap sahabatku sekali lagi. Tami yang sama, tapi sekaligus Tami yang begitu berbeda. Sudah begitu berkembang dia. Sementara aku?

Pertanyaan itu kusisihkan dulu dari pikiranku, karena tugasku di sini adalah mengobservasi. Tami masih sibuk dengan laptopnya, sambil beberapa kali diselingi telepon dan diskusi dengan stafnya. Memimpin staf yang sudah bekerja belasan tahun di sini, dengan usia yang jauh di atasnya, pasti sama sekali bukan hal yang mudah. Ia akan dengan sangat keji dicemooh sebagai anak bos yang sok tapi tidak tahu apa-apa, kalau ia salah memainkan perannya. Orang lain pun mungkin akan mendengus dengan stereotip, bahwa menjalankan usaha Bokap adalah jalan pintas mudah bagi anak manja.

They couldn’t be more wrong.

Kadang di sela pekerjaannya, Tami mengeluarkan random wisdom. “Do not be afraid to look stupid, Deb.”—(I look stupid all the time, itu adalah jawaban yang pertama kali terlintas di pikiranku.)—“Artinya, kalau memang lo belum tahu, belum bisa, ngomong aja yang jujur. That way you will learn. Dan orang pun akan lebih seneng dan respect, karena first you don’t bullshit around. Kedua, better look stupid in the beginning dan kemudian progressing daripada look smart in the beginning tapi ternyata ga ngerti apa-apa.”

Tami juga menekankan pentingnya kualitas tim yang tak bisa dikompromikan. “Menurut gue, CEO harus spend 20% waktu mereka untuk hiring. Begitu gue masuk ke company ini, gue bilang, kita harus hire 50 orang tahun ini. Gue minta HRD gue kasih source 50-100 CV setiap harinya. Tapi standar tetap harus dijaga. Gue nyari staf IT, udah source 300 orang dan ga ada satu pun yang lolos. Gue mendingan kerja 6 bulan tanpa tim, daripada kerja 1 bulan dengan tim yang screwed up. Orang yang ga bisa kerja itu kayak kanker dalam perusahaan. Akan bikin busuk yang lain juga.”

Satu hal yang berulang kali disebutkannya adalah pentingnya mendapatkan trust dari orang lain. Project besar pertama kali didapatkannya waktu ia masih 19 tahun. Ia meminta dana dari profesornya sebesar 20.000 US$ untuk diinvestasikan. Dalam setahun, uang itu sudah menghasilkan return 30%. Profesornya girang dan ingin Tami mengelola dana tersebut lagi, tapi Tami memilih untuk belajar hal lain. “Kerjakan project dengan sebaik mungkin, get your hands dirty, dengan cara itu lo akan mendapat reputasi yang baik. Nanti project akan selalu dateng sendiri ke lo.”

Tami bukan orang yang gemar naik panggung di bawah sorotan spotlight, menceritakan kehebatan prestasinya di usia muda. Padahal ia jauh lebih berkarya daripada orang-orang yang meng-claim dirinya Young on Top. Tami masih Tamiun-Tamidut-Tamiko yang dengan suara lembut akan menanyakan kabarmu dan kisah keseharianmu, lalu mendengarkannya seakan ceritamu semenarik J. K. Rowling. Di balik itu, Tami masih haus belajar, dan punya rencana untuk mengambil cuti selama 2-3 tahun untuk menimba ilmu dan pengalaman lagi di bidang yang sesuai passion-nya. Targetnya tak kurang dari Harvard. You cannot expect less from him.

Setelah menjalani setengah hari hanya dengan diisi segelas kopi dan air putih, Tami meluncur ke Teo Chew Palace, tempat beberapa teman lamanya sudah menanti. Mereka berbincang sejenak tentang bisnis sambil menunggu pesanan dimasak. Tapi begitu siomay dan hakau terhidang di meja, percakapan berubah total. Yang dibicarakan adalah hobi mereka, yang dapat dengan mudah disalahartikan dengan hobi remaja ababil: minum dan ngebut. Tapi tentu ini versi jauh lebih elitenya. Minuman kelas atas yang harga per botolnya hitungan juta. Hobi yang biasanya akan membuatku geleng-geleng kepala tak menyetujui pemborosan, tapi dalam kasus ini tidak. Hey, he earns it. Kalau itu caranya refreshing sejenak dari tekanan, apa salahnya?

Setengah hari bersama Tami cukup menguras tenaga. Begitu sampai di rumah, aku merebahkan diri di sofa dan menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Kakakku mencetus, “Kenapa lo, De?”

“Berasa goblok,” sahutku datar. “I haven’t stretched myself enough. Malu kalo ngebandingin sama temen-temen yang lain.”

Ya. Aku masih sangat perlu belajar. Kalau memang benar otak kita baru dipakai 4% kapasitasnya, rasanya otakku saat ini baru 1,5% diutilisasi. Dan masih berani-beraninya aku goler-goler di ranjang?

One thought on “Setengah Hari Bersama Tami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s