Gen Y, Bukan Hanya Omong Besar

Note: Artikel ini ditulis atas permintaan majalah Human Capital dan dimuat di edisi Oktober 2013.

Setahun yang lalu, dengan name tag bertuliskan nama perusahaan prestisius, saya berjalan dengan bangga melewati sederetan stan perusahaan lain di sebuah job fair. Saya di situ bukan sebagai job seeker yang berjejalan penuh keringat menyebarkan belasan lamaran ke perusahaan; saya sebagai employer dengan hidung sedikit terangkat angkuh, menyeleksi setiap kandidat dengan standar tinggi. Dan ternyata bukan cuma mahasiswa yang berebutan ingin melamar ke perusahaan saya. Para HRD perusahaan lain pun ada yang mengendap-endap datang ke stand saya, tersenyum profesional tapi agak malu-malu, dan bertanya, “Di sini ada lowongan untuk HRD gak? Saya kepengen pindah…”

Dinobatkan sebagai salah satu perusahaan terbaik di Indonesia, perusahaan tempat saya bekerja tak pernah kekurangan peminat. Setiap job posting akan disambut dengan serbuan ribuan pelamar. Tapi tentu hanya kandidat creme de la creme yang berhasil menduduk posisi tersebut, dan dapat dengan bangga juga mengalungkan name tag ke lehernya.

Anehnya, kondisi company ini seperti busway di jam pulang kantor. Sementara orang dari luar berjejalan ingin masuk, yang di dalam juga tak sabar dan gerah ingin keluar. Tak sedikit karyawan yang hanya bekerja setahun-dua tahun, lalu kemudian hengkang karena berbagai alasan. Tentu hal ini merugikan perusahaan. Sudah sekian juta dihabiskan untuk biaya rekrutmen. Sekian juta lagi dikeluarkan untuk biaya pelatihan. Eh, belum sempat sang karyawan memberikan kontribusi yang signifikan, ia malah keburu cabut. Kalau di bisnis, istilahnya belum break event point.

Ternyata masalah ini umum ditemui di banyak perusahaan, bahkan yang ternama dan prestisius sekalipun. “Generasi sekarang berbeda!” decak para eksekutif yang rata-rata sudah mengabdi puluhan tahun sambil menggeleng-gelengkan kepala tak paham. Para HRD pun diperintahkan mencari kajian tentang generasi baru ini, yang diberi nama gen Y. Karakteristik gen Y dipaparkan, kekurangan dan kelebihan mereka dijabarkan, dan bagaimana menarik dan mempertahankan mereka dipertanyakan. Berbagai seminar dibuat untuk membahas fenomena ini.

Saya sebagai HRD juga tak ketinggalan disuruh ikut seminar serupa. Saya duduk dengan di ruang kelas, mendengarkan ceramah tentang generasi saya sendiri, sambil dengan ironi memikirkan posisi saya yang terjepit di tengah.

Lahir di tahun 1989, saya termasuk gen Y. Karakteristik—baik positif maupun negatif—gen Y tersebut juga melekat erat di saya. Tapi saya juga sebagai HRD yang harus mengayomi karyawan ataupun mahasiswa calon karyawan. Dan saya juga merasakan sebalnya menghadapi kandidat yang berlagak padahal belum membuktikan apa-apa.

Kepada mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate, saya sering memberi masukan. Generasi merunduk yang terbiasa memegangi gadget sambil melakukan aktivitas apapun, kini harus belajar berinteraksi sosial dengan rekan dan atasan. Tak jarang saya temui kasus gen Y yang dianggap kurang sopan cara bicaranya dengan bos yang notabene gen X.

Yang tak bosan-bosan saya nasihatkan juga tentang pentingnya proses. Generasi ini ingin yang serba instan, meraih kekayaan dengan cepat. Generasi lalu membuka bisnis dengan membangun pabrik yang return on investment-nya lama. Generasi sekarang? Buka online shopping saja yang cepat membawa hasil. Tapi ketahanannya untuk jangka panjang diragukan.

Mantan presiden Soekarno pernah berkata, “Beri aku 10 pemuda, dan akan kuubah dunia!” Ucapan yang berlaku sekarang sepertinya adalah, “Beri aku 10 pemuda, dan akan kubuat boyband!” Generasi yang kreatif dan penuh ide. Tapi juga generasi yang self-centered, mengutamakan kesenangan sendiri, hingga kadang lupa memikirkan manfaatnya bagi masyarakat luas. Harus saya akui, generasi saya masih punya banyak PR untuk ditunaikan dulu sebelum boleh berbangga hati.

Kepada para manager, sebenarnya saya juga ingin memberikan masukan agar mereka dapat mengutilisasi potensi gen Y secara optimal. Gen Y terkenal dengan kreativitas dan kegilaan idenya. Rasanya tak ada yang mustahil dalam pikiran mereka. Dan sekali mereka sudah engaged dengan sesuatu, mereka akan berusaha 110% persen di situ.

Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana cara membuat mereka engaged dengan company?

Menurut saya, mereka harus diberi ruang untuk otonomi. Jadikan visi perusahaan koheren dengan visi personal mereka, lalu berikan mereka kebebasan untuk berkreasi sendiri mencari jalan menuju visi tersebut. Sebisa mungkin, jangan ada ide yang dikungkung karena birokrasi yang berlapis.

By the way, kalau di awal tadi saya bilang bahwa saya dengan bangga berjalan dengan name tag di leher, kini keadaannya 180 derajat berbalik. Tadi pagi saya menyapu sampah kertas dan tisu di lantai ruangan kantor kecil di bilangan Kuningan.

Ya, saya akhirnya mengajukan pengunduran diri dari perusahaan idaman dan prestisius itu, dan bergabung ke start-up company yang belum mampu membayar office boy, sehingga dibuat jadwal piket bergantian setiap hari. Gengsi saya tinggalkan, dan gaji saya terpangkas lebih dari 50%.

Tapi saya mendapatkan ruang untuk berkreasi. Semua ide dapat dijalankan tanpa perlu approval 5 lapis, asalkan feasibility-nya sudah dikaji. Kalau tadinya saya hanya sekrup di kapal besar yang perannya kecil dan tak signifikan, di sini saya menjadi pendayung perahu kecil. Begitu satu orang berulah atau berhenti mendayung, perahu ini bisa oleng.

Di perusahaan sebelumnya, semua sistem sudah terumuskan dengan sempurna. Bahkan management system-nya dijadikan benchmark oleh perusahaan-perusahaan lain. Tapi bagi saya, pekerjaan saya menjadi robotik. Saya atau orang lain yang mengerjakan, tak ada bedanya. Toh kami semua hanya menjalankan sistem. Yang berlaku adalah bus theory: Kalau saya tertabrak bus dalam perjalanan pulang kantor dan meninggal, minggu depan sudah harus ada pengganti yang menjalankan tugas saya tanpa cela.

Sedangkan di start-up company, semua orang seperti memegang alat musik berbeda dalam orkestra. Setiap personil membawa warna dan melodi. Dari piano, bass, hingga triangle yang nampaknya remeh, tapi menghasilkan paduan musik yang indah.

Jadi setelah dua tahun terjepit di tengah, saya mengambil langkah yang sangat khas gen Y. Langkah yang membuat orang tua berdecak dan menggelengkan kepala tak paham. Dan saya harap nantinya saya juga bisa membuktikan bahwa generasi Y, generasi saya, bukan hanya bisa omong besar, tapi sungguh-sungguh menghasilkan karya yang nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s