Beasiswa Sejuta Dolar

Api cita-cita ini sudah terpendam di hatiku sejak lama. Awalnya waktu aku membaca novel-novel Enid Blyton tentang sekolah asrama di Inggris. Serunya pesta tengah malam, asyiknya memperdaya guru dengan berbagai keisengan, dan kerennya murid-murid yang terpilih sebagai dewan sekolah. Waktu itu aku baru umur 7 tahun, dan belum paham bahwa sekolah maupun kisah itu hanya fiksi. Aku masih ingat benar, suatu malam aku duduk di tepi ranjang ayahku, dan berbisik bahwa aku ingin bersekolah di sana.

Tahun-tahun berlalu dan api cita-cita itu masih tetap menyala. Hal itu yang membuatku selalu gelisah, seperti orang ambeien yang berusaha duduk diam di kursi kantor. (Suwer, aku tak pernah ambeien, tapi kubayangkan rasanya mirip seperti itu.) Di umur 20, saat aku putus dengan pacarku dari SMA, salah satu alasan yang kukemukakan adalah: “Aku belum siap settling down. Aku masih pengen S2 di luar negeri.” Setelah lulus kuliah, aku bekerja di ke Astra International, salah satu perusahaan terfavorit di Indonesia. Seharusnya itu membuatku merasa bangga dan puas, tapi setiap detik yang terlewat di bilik kantorku terasa seperti halangan bagi impianku mencicipi kehidupan di luar negeri. Saat aku pacaran lagi dengan orang lain, nyaris bertunangan, dan akhirnya putus di usia 23, lagi-lagi alasan yang kukemukakan adalah: “Aku belum siap settling down. Aku masih pengen S2 di luar negeri.”

Api ini tak jua padam dan aku bukannya tak mencoba mencari jalan. Beasiswa demi beasiswa sudah kulamar. Aku punya satu folder di laptopku yang kuberi judul agak cheesy: Mimpi Sejuta Dolar Saya. Di dalamnya ada berbagai subfolder: Swedia, Australia, US, LPDP, dan Chevening. Semuanya merupakan beasiswa penuh plus biaya hidup, karena aku tahu beasiswa parsial takkan bisa menopang hidup dan studiku. Tapi beasiswa penuh itu juga seperti kembang desa yang diidam-idamkan pemuda dari segala penjuru. Persaingannya ketat. Hanya pemuda berpaket komplit—six pack, tajir, setia, plus bisa main gitar dan bersuara merdu—yang bisa mendapatkan gadis ini.

Setelah empat kali apply beasiswa dan gagal, aku sudah siap untuk menyerah. Saat itu aku juga sudah memegang karier cemerlang—posisi kunci sebagai head of business development di salah satu perusahaan startup yang sedang berkembang di Indonesia. Aku yang mengasuh perusahaan ini dari 4 orang hingga 40 orang. Dari dugem (duduk gemetar) di siang bolong, menatap nanar rekening bank perusahaan yang tinggal belasan juta saldonya, hingga kini revenue jutaan dolar mengalir deras. Dari yang semua-muanya dikerjakan sendiri, hingga kini punya anak buah 10 orang. Rasanya menetap di Indonesia tak terlalu buruk juga.

This is my last shot, tekadku waktu aku meng-klik submit untuk lamaran beasiswa Chevening, beasiswa bergengsi dari pemerintah Inggris. Kalau sampai gagal juga, aku akan memaksa diriku untuk puas hidup di Indonesia.

By the way, frasa Mimpi Sejuta Dolar dipopulerkan oleh Merry Riana, yang meraih sukses dalam bentuk sejuta dolar pertamanya di usia 26 tahun. Sejak aku mengenal sosoknya (kisah pertemuan kami ada di buku Follow @MerryRiana), diam-diam aku bermimpi juga untuk meraih prestasi yang layak dibanggakan di usia 26 tahun. Angka 26 ini memang magis. Beberapa tokoh, seperti Adam Khoo atau Yoris Sebastian, juga meraih suksesnya di usia 26.

Mungkin kau sudah bisa menebak ujung kisahku. Dua minggu setelah ulang tahunku yang ke-26, aku mendapat email itu:

Dear Debbie,

We are delighted to inform you that the selection panel were very impressed with your application and interview and have conditionally selected you for a 2015/2016 Chevening Award. Chevening Awards are prestigious and highly competitive so congratulations for reaching this stage!

Ini bukan cerita motivasi yang pesan moralnya adalah “Jangan menyerah! Dicoba terus, maka Anda pasti bisa!”, bukan pula tentang “Shoot to the moon! If you failed, you’ll land among the stars” yang ditulis oleh orang idiot yang tak tahu berapa jarak bulan dan bintang ke bumi. Aku membagikan kisah ini sebagai pecutan bagi teman-teman yang masih tidur siang atau jalan di tempat.

Dulu, aku pernah mengobrol dengan para pelamar beasiswa lain (tak usah disebut nama beasiswanya, yang jelas tidak ada batas minimum pengalaman kerja di sana). Banyak yang sudah lulus S1 tiga bulan, bahkan enam bulan yang lalu. Tapi mereka sama sekali tak punya pengalaman kerja. Kenapa?

“Mau fokus cari beasiswa,” jawab mereka santai. Mereka bilang, memoles CV dan esai membutuhkan konsentrasi dan dedikasi waktu. Kalau disambi bekerja, pasti tak akan optimal.

What?? Menurutku, itu sama saja dengan gadis yang kegemukan, yang bukannya mengubah pola makan dan olahraga, ia malah belajar cara-cara untuk mengedit fotonya di Adobe Photoshop agar terlihat lebih cantik menarik. (Kalian tahu Camera 360? Aplikasi yang bisa membuat foto kita jadi cantik, imut, dan mulus. Ada lelucon di kalangan mahasiswa fakultas hukum, bahwa apps itu seharusnya dinamakan Camera 378. Nama 378-nya merujuk kepada pasal Undang-Undang tentang penipuan. Entah berapa banyak orang yang tertipu foto profile yang jauh berbeda dengan kondisi nyatanya.)

Di tahun-tahun sebelumnya aku gagal mendapat beasiswa. Bukan karena esaiku kurang keren, tapi karena aku memang belum cukup matang sebagai pemimpin di ranah kecilku. Belum ada pembuktian, sehingga aku belum bisa diproyeksikan sebagai pemimpin bangsa ini di masa depan. Beasiswa Kembang Desa ini hanya akan diberikan kepada orang-orang yang dianggap berpotensi menjadi kepala, bukan ekor.

Beasiswa yang kudapat memang tidak benar-benar seharga sejuta dolar, hanya puluhan ribu poundsterling. Tapi bagiku nilainya sungguh sejuta dolar. Karena demi menjaga api cita-cita itulah aku bisa menjadi diriku yang sekarang. Nyala api dari lilin kecil 19 tahun lalu, yang menjadi obor dan penggerak bagiku selama ini. Api yang kini juga memberi cahaya dan panas bagi lingkungan sekitarku. Dan semoga, api ini juga menjagaku agar tetap hangat di tengah menggigitnya udara dingin Inggris nanti.

One thought on “Beasiswa Sejuta Dolar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s